KEBEKUAN IBADAH

Kebekuan ibadah, tergantung bagaimana seorang pemandu firman bisa menyikapi kelebihan dan kekurangan serta menganalisa pergumulan jemaat. Dalam hal ini merumuskan akan kepelbagian makna dan hakikat yang sebenarnya.

Namun sebaliknya jemaat harus dituntut bijak dalam menyikapi, tidak semena-mena atau dengan kata lain “asal” menilai tampa didasari fakta akan kebenaran. Sementara faktor integritas, moralitas dan spiritualitas yang menjadi sandaran pintu masuk bukan hanya sebagai identitas diri semata, melainkan sebagai kerangka hidup antar sesama. Yaitu saling memberi, menerima dan merealisasikannya.

Tapi sebaliknya bila pola ibadah yang disampaikan hanya sekedar mengupas wacana dan melampiasankan hasrat bersikap, mungkin makna dari penghayatannya akan sia-sia, juga kehilangan nilai-nilai spiritualitas yang ada.

Seperti apa yang dikatakan pdt Firman Panjaitan M.Th, “Perlunya memperhatikan psikologi jemaat sehingga dapat dibangun suasana yang gembira saat beribadah, bukan suasana mati yang mengkibatkan warga datang ke gereja hanya sekedar memenuhi kewajiban. Sangat perlu dibangun ikatan emosi antara jemaat satu dengan jemaat lainnya, antara jemaat dengan pendeta dan antar gereja.”

Tanpa disadari dengan adanya pemahaman dan gambaran tentang makna beribadah ini, muncul gagasan untuk mengevaluasi. Sejauhmana langkah yang perlu diambil ? Inilah letak kesadaran kita untuk membenahi kekurangan-kekurangan yang ada. Semoga perjalanan yang masih panjang ini kita kemas bersama akan makna beribadah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s