TUGAS SEORANG PEMIMPIN

Pemimpin yang tidak memaksakan kehendaknya tetapi juga tidak membebaskan begitu saja melainkan tetap mengendalikan anggotanya sesuai dengan tugasnya masing-masing. Inilah konteks yang kita bahas.

Pola kepemimpinan seperti ini memang paling cocok diterapkan dalam konteks GKJW yang merupakan gereja gerakan warga. Seorang pemimpin dalam GKJW bukan mendikte namun menggerakkan warganya sesuai dengan ajaran Tuhan. Hal ini yang nampak di GKJW Waru, dimana warganya memiliki kemampuan dan kemauan untuk melayani. Dalam hal ini seorang pemimpin hanya akan mengarahkan anggotanya agar terus berkembang dan melayani sesuai dengan kemampuan masing-masing. Gerakan wargalah yang memang diutamakan oleh seorang pemimpin dalam konteks ini dan dengan begitu khususnya bagi gereja tidak akan menjadi gereja yang pendeta sentris, namun menjadi sebuah gereja yang dinamis dalam pelayanannya karena warga turut ambil bagian dalam setiap kegiatan.

Oleh karena itu berdasarkan pengamatan, saya melihat bahwa kepemimpinan seorang Pendeta akan menentukan bagaimana jalannya oraganisasi gereja. Pendeta adalah sosok yang menggerakkan dan memotivasi warga untuk aktif dalam kegiatan gereja. Dalam beberapa hal memang Pendeta perlu melepaskan jemaat untuk dapat berekspresi sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya dan setelah itu akan ada evaluasi bersama guna mengetahui sejauh mana pencapaian dari tujuan kegiatan itu. Secara singkat kepemimpinan seorang Pendeta bukan berarti Pendeta memiliki kekuasaan tertinggi tetapi sebagai penanggung jawab dan penggerak yang mampu menyemangati dan memotivasi jemaat untuk terus berkarya dalam pelayanan.

Pendekatan Pastoral merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan jemaat. Upaya pastoral merupakan salah satu penggembalaan yang diakukan. Dalam konteks GKJW yang berada di wilayah perkotaan, salah satu upaya pastoral yang dilakukan adalah melalui kunjungan.Tujuan ini ternyata juga dapat menjadi salah satu upaya pastoral yang baik karena dilakukan secara rutin setiap hari hari yang sudah ditentukan. Pola pendekatan patoral seperti ini memang tepat tetapi untuk beberapa warga khususnya yang bekerja rasanya kurang tepat. Mereka yang bekerja biasanya memang kurang nyaman untuk mendapat kunjungan hari yang sudah ditentukan karena mereka biasanya memanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.

Tetapi dengan pendelegasian tugas kepada majelis wilayah untuk mendampingi beberapa keluarga hal ini sepertinya akan tercover. Pengaturan yang seperti ini memang sesuai dengan konteks GKJW, karena seorang Pendeta tentu tidak akan mampu mengawasi satu persatu warganya. Dengan adanya pendelegasian tugas inilah upaya pastoral tersebut dapat bejalan dengan baik dan semua warga dapat merasakan pemeliharaan dan perhatian dari Gereja. Dalam hal ini Pendeta juga tidak melepaskan begitu saja para Penatua dan Diaken dalam melakukan tugasnya. Jadi saling kebersamaan. Puji Tuhan semuanya bisa terselesaikan walau tugas itu sangat berat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s