KESALEHAN SOSIAL

Perputaran waktu sangat tak terasa sangat begitu cepat. Melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Membawa penulis pada fragmen kehidupan baru yang tak kalah menantang dibanding sebelumnya. Dengan melihat pelbagai polemik yang cukup pelik. Tak jarang di media massa maupun lini masa beradu isu dan opini yang saling menjatuhkan. Mulai dari rakyat jelata, kaum priyayi, agamawan, hingga birokrat yang gemar bersilat lidah untuk meyakinkan budak-budak intelektual yang mengikutinya.

Yang cukup miris, standar ganda diterapkan dalam menilai lawan maupun kawan. Jika ada seseorang dari kelompok berbuat salah maka akan muncul berita bahwa kelompok itu adalah kelompok yang sesat dan menyimpang. Namun jika ada kawan sekelompoknya berbuat salah, maka akan muncul berita bahwa dia yang berbuat salah adalah oknum. Dan masalah pun selesai.

Dari sekian banyak polemik, agama adalah isu yang cukup renyah untuk dikunyah bersama, entah itu oleh orang-orang yang seiman maupun yang berlainan. Budaya mengkafirkan dan menyesatkan semakin populer dan menjadi tren yang menarik untuk disimak. Alih-alih menjadi rahmat, perbedaan telah menjadi sumbu yang menyulut perdebatan panas yang menjurus tindakan anarkis dan pembunuhan karakter. Di sinilah kita yang mendapat predikat sebagai anak-anak Tuhan untuk bersikap bagaimana…., apa hanya cukup untuk pasrah dan berserah ?

Memang masyarakat Indonesia yang telah lama hidup dalam kondisi berbhineka mulai melupakan formula tenggang rasa dalam berinteraksi sosial. Atas nama kebenaran yang tunggal mereka mulai tak segan menginjak-injak pendapat yang bersifat furu’iyah. Dengan label sesat mereka tak ragu lagi untuk membungkam mulut mereka yang tak sependapat. Bahkan, melenyapkan ketentraman hidup masyarakat Indonesia pun tak jadi soal jika mereka yang ditindas adalah kelompok yang tak mau tunduk pada kebenaran tafsiran mereka.

Apakah menjadi orang sesat dan bermoral tak pantas untuk hidup di Indonesia? Apakah orang yang mengaku tak beragama harus diusir dari negara ini karena menyalahi sila pertama Pancasila? Apakah hanya yang diakui suci saja yang boleh mengisi mimbar-mimbar peradaban bangsa?
Sedikit demi sedikit masyarakat mulai digiring untuk lebih menonjolkan kesalehan individual ketimbang kesalehan sosial. Inilah fragmen kehidupan yang buram dan kita masih tetap berbinar walau binar itu kecil menerangi…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s