DI ERA POST-TRUTH

Ada sebagian kalangan masyarakat menilai bahwa para jurnalis investigasi sering dituding sebagai orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Sebagai contoh; terjadi suatu peristiwa kecelakaan, tidak mungkin seorang jurnalis menolong lebih dulu, namun justru mengabadikan momen yang sangat penting ini. Cepret sana cepret sini, yang penting dapat berita yang gres dan sebagai keuntungan catatan tersendiri. Hem…

Kalau sedikit ikut menyanggah, penilaian ini sebetulnya kurang obyektik dan kurang bisa dipertanggungjawabkan, entah secara verbal atau non verbal.
Juga jangan terlau tergesa-gesa dalam menilai segala sesuatu hal tanpa didasari landasan yang riil. Justru dari peristiwa ini sang jurnalis terlebih dulu memberi kabar berita lewat media secara luas bukan secara pribadi tapi secara luas. Beritanya menyebar kemana-mana. Iya, apa tidak ?!

Namun kembali pada dasar semula bahwa tugas seorang jurnalis adalah kepedulian terhadap publik. Walau dalam kepelbagi persoalan yang sulit sekalipun. Kita masuk pada era post-truth saat ini, informasi menjadi senjata untuk menguasai. Disinilah para jurnalis sepandai-pandainya menelaah suatu kesimpulan pada masyarakat. Memang pada era post-truth ini juga informasi digelontorkan bertubi-tubi agar menjadi opini. Pada gilirannya, opini masyarakat saking intensnya mengkritisi sebuah informasi terpapar, bukan oleh faktual atau tidaknya informasi tersebut.

Yah beginilah tugas seorang jurnalis, hanya sang pencipta yang mengetahui segala sesuatunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s