DEMOKRASI YANG SIA-SIA

“Jika rahim tempat persemaian janin demokrasi berisi prilaku yang kontraproduktif dengan nilai demokrasi. Janin demokrasi terlahir prematur atau “gugur” pada kondisi masyarakat politik yang tidak sehat” kata seorang pengajar dari Fakultas Ilmu Budaya Unair. Pernyataan ini sangat menarik untuk diamati dan disimpulkan.

Berbicara tentang demokrasi di negara kita ini seakan kita masuk pada ranah yang sangat ambigu. Yang terbetik pada konteksnya, Indonesia setidaknya telah melalui empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal dimasa kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno membubarkan
konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga adalah

demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto.

Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi.

Kelebihan dan kekurangan pada masing-masing masa demokrasi tersebut

pada dasarnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita. Demokrasi

liberal ternyata pada saat itu belum bisa memberikan perubahan yang

berarti bagi Indonesia.

Namun demikian, berbagai kabinet yang jatuh bangun pada masa itu telah memperlihatkan berbagai ragam pribadi beserta pemikiran mereka yang cemerlang dalam memimpin namun mudah dijatuhkan oleh parlemen dengan mosi tidak percaya. Sementara demokrasi
terpimpin yang dideklarasikan oleh Soekarno (setelah melihat terlalu lamanya konstituante mengeluarkan undang-undang dasar baru) telah memperkuat posisi Soekarno secara absolut.

Nah, ketidak jelasan demokrasi sekarang ini karena masih dalam masa peralihan atau transisi. Dalam masa peralihan inilah ibarat seperti janin yang mencari kehidupan baru, masa dalam taraf belajar untuk membangun demokrasi yang kuat. Disertai perlunya hidup dalam kebersamaan, bukan saling ingin merebut kekuasaan dengan manufer-manufer politik yang tidak sehat. Dan agama yang semestinya sebagai filter permasalahan, namun hanya sebagai tameng kekuatan politik yang ampuh. Sementara Pancasila yang katanya sebagai payung peneduh keadilan, hanya sebagai pengertian yang buram. Juga pengertiannya hanya betsifat kasuistik dan fragmentaris saja. Lalu akan dibawa kemana negeri ini, kalau demokrasi tidak bisa lahir dengan sempurna….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s