MERAWAT KEBHINEKAAN

Sistem untuk medeteksi diri dalam bertoleransi dibutuhkan rasa untuk saling membangun nilai-nilai persaudaraan, menjunjung norma kearifan lokal, kesetaraan gender dan mewujudkan perdamaian. Dan munculnya intoleransi dimungkinkan adanya kepelbagi gejolak yang tidak nyambung dalam lingkungan sosial masyarakat, nah perlu dibutuhkan ideologi pemersatu seperti yang termaktup di dalam Pancasila, interdepedensi ekonomi merupakan ragam mata pencaharian yang merata tidak monopoli, dan afiliasi silang sebagai kelompok pembaharuan dalam konteks seni dan olahraga secara kebersamaan. Inilah produk kebajikan yang pelu disematkan entah secara verbal atau juga non verbal dalam satu atap kebhinekaan.Tanpa praksis toleransi seperti ini tak akan tercapai kedamaian yang hakiki, tapi sebaliknya yang ada hanya penetrasi pemikiran radikal dan intoleransi semakin tak terarah.

Memang ditengah ancaman disintegrasi yang dihadapi bangsa Indonesia, diperlukan upaya untuk terus menjaga keberagaman. Perbedaan ras, etnis, agama, dan budaya tidak mengarah pada perpecahan tetapi justru memperkuat harmoni sosial. Dengan menggunakan pendekatan historis ini, artikel ini bermaksud untuk menganalisis upaya untuk memelihara keragaman yang dilakukan oleh warga negara yang berdomisili di pulau-pulau, mengambil kasus di dua pulau, Kepulauan Natuna, dan Kepulauan Karimunjawa. Masyarakat Indonesia secara sosiologis dan budaya memang merupakan masyarakat majemuk yang memiliki potensi besar untuk munculnya konflik dan perpecahan, jika tidak didasarkan pada multikulturalisme. Masyarakat Natuna dan Karimunjawa yang memiliki keanekaragaman etnis, agama, dan budaya masih mampu mempertahankan keanekaragaman dan menjaga keindonesiaan, sehingga bisa menjadi contoh bagi warga negara lain, terutama yang berada di dekat pusat pemerintahan dengan berbagai fasilitas tetapi kurang mampu untuk memelihara dan memelihara keanekaragaman. Inilah yang harus kita rawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s