SEBAGAI KONCO WINGKING

Sebagian orang mengatakan, bahwa perempuan hanya sebagai koco wingking oleh kaum pria. Dalam hal ini budaya patriaki masih sangat kuatkah sebagai landasan moral di era milenial ini ? Memang apa yang melekat pada diri perempuan adalah yang berkaitan dengan istilah “Swargo nunut, neroko katut” yang jika diartikan perempuan adalah sosok yang berada dalam bayang-bayang laki-laki(suami), jika suami masuk surga, maka istri juga masuk surga, sedangkan jika suami masuk neraka, maka istri juga ikut kena imbasnya, karena laki-laki adalah imamnya.

Secara sepintas memang benar bahwa laki-laki adalah iman perempuan, tetapi tidak berhenti pada titik ini, sebagai perempuan juga harus kritis dalam memaknai hal ini. Bukan berarti hal ini dijadikan dalil untuk membenarkan segala yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Bukan berarti laki-laki selalu benar karena dia adalah imam. Apakah jika suami mengajarkan untuk korupsi itu adalah benar hanya karena dia adalah seorang imam? Apakah jika suami berbuat kekerasan pada istri hanya karena terbawa masalah di tempat kerja adalah suatu kebenaran karena dia adalah imam? Apakah jika seorang suami memaksakan kehendak atas dasar egoisme adalah hal yang benar?

Pada kenyataannya tidak semua yang dilakukan oleh seorang laki-laki adalah benar, tetapi tidak semua yang dilakukan oleh laki-laki adalah hal yang salah. Selama mereka masih memiliki alasan yang dibenarkan dan tidak melanggar hak asasi orang lain, serta memiliki kebijaksanaan dalam memutuskan perkara, tidak ada alasan bagi perempuan untuk tidak menerimanya, tetapi jika mereka hanya mendasarkan pada keinginan dan egoisme mereka semata, tanpa memiliki alasan dan kebijaksanaan yang kuat atas setiap keputusan, maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk tetap menerima perlakuan tersebut. Perempuan bebas mengatakan aspirasinya ketika mereka terkait dalam konteks tersebut, ketika ada hal yang berkaitan dengan mereka, mereka bebas ikut serta dalam proses pembahasan tersebut. Tidak harus tunduk pada apa yang dikatakan oleh laki-laki, dan bukan berarti ketika laki-laki dianggap mewakili keberadaan perempuan maka hal itu dianggap representatf. Negara kita memiliki jumlah perempuan yang cukup banyak. Seiring dengan hal itu, masalah yang timbul pun akan semakin kompleks. Akankah perempuan tetap diam dan hanya menerima posisinya sebagai teman wingking (dibelakang layar) yang hanya berkecimpung di dapur, kasur dan sumur? Yang hanya dihadirkan sebagai objek pelengkap penderita atas segala permasalahan yang ada saat ini.

Sedangkan perempuan itu sendiri tetap ikut andil dalam terkena imbas setiap persoalan yang ada. Disatu sisi tingkat pengetahuan perempuan di masyarakat kita mengenai kesetaraan gender masih belum optimal diserap oleh mereka, apalagi para generasi tua yang masih sangat erat dengan warisan pengalaman masa lalu yang sebagian masih konservatif. Berbeda dengan lingkungan yang benar-benar dikonstruksikan untuk membangkitkan semangat kesetaraan gender tersebut. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap seberapa jauh masyarakat menerima dan menerapkan hal tersebut pada kehidupan mereka ini ? Hemm…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s