SINGLE PARENT

Sepertinya tak ada salahnya aku menulis tentang perjuangan wanita yang super. Single Parent, atau Super Mom. Mengapa bisa mendapat predikat seperti itu ? Sebut saja perempuan itu namanya Jeng Nunuk dan ia tinggal di depan rumah di mana aku nginap di situ. Aku kenal hanya beberapa hari saja sudah akrap. Bukan karena ia cantik, bersih dan sexy. Namun karena naluri seorang laki-laki yang sudah dewasa dalam segala hal. Alias tidak kekanak kanakan.

Jeng Nunuk mendapat predikat seperti itu, karena ditinggal pergi suaminya yang tidak tanggung jawab. Hingga kedua anaknya sudah menginjak remaja, suaminya itu tidak pernah pulang. Ada kabar burung bahwa suami sudah kawin lagi dan tinggal di Menado. Laki-laki goblok ! Batinku, istri sudah cantik seperti itu kok ditinggal pergi. Mau cari yang bagaimana lagi ?

Jeng Nunuk bisa juga dikatakan menjadi ayah, sekaligus menjadi ibu bagi buah hati mereka. Tentu bukan hal yang mudah. Pastilah hanya mereka yang bermental baja yang mampu menjalani dan melewati. Masalahpun bertambah pelik ketika yang menjadi single parent adalah seorang ibu. Orang biasa menyebut mereka seorang janda. Ya…seorang janda. Bukan rahasia lagi, bila kehadiran sosok janda sering menjadi bahan gunjingan bagi orang sekitarnya. Entah mengapa stigma negatif kadang terus mengumandang. Di sinilah perlunya aku mengklarifikasi atau peduli membelanya tentang stigma yang terus bermuara itu. Tidak semua single parent itu negatif dalam berprilaku.

Baginya hal semacam itu sudah makanan sehari-hari, yang penting ia terus semangat kerja dan kerja. Tapi kenyataannya ia tidak pernah kekurangan hal kebutuhan rumahtangganya. Kedua anaknya yang cantik-cantik juga selalu nurut perintah mamanya. Bukan mamanya terlalu over protectif, tidak ! Hebatkan, perempuan seperti dia Nunuk Dian Nastiti nama kepanjangannya.

Namun juga ironisnya, justru cibiran yang dilontarkan padanya meluncur dari mulut sesama kaum hawa. Sungguh aneh. Perempuan merendahkan kaumnya sendiri. Padahal yang sedang mereka bicarakan juga tentang martabat perempuan. Sebegitu rendahkah harkat seorang janda, hingga keberadaannya seolah lampu kuning bagi sesama perempuan untuk berhati-hati. Apalagi bila kebetulan sang janda berwajah cantik. Belum lagi godaan yang datang dari kaum lelaki, yang sering terasa melecehkan sekaligus menghinakan. Sesungguhnya menjadi single parent itu “abot songgohe” mau begini salah, mau begitu salah. Hem, kasihan Jeng Nunuk. Hanya segala sesuatunya Tuhan yang tahu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s