MENENGOK TEATER GANDRIK YOGJAKARTA.

Mungkin kita masih ingat atau kita flashback kembali di era 80 hingga 90an adalah masa-masa produktif bagi Teater Gandrik pada saat itu. Hal ini seperti sebagaimana yang pernah ditunjukkan dalam beberapa pementasan sebagai bagian penting dari dinamika sosial politik di Indonesia pada masanya, masa pemerintahan Soeharto dengan rezim orde barunya. Saat itu tatkala hagemoni kekuasaan Orde Baru sangat berkuasa atas sendi-sendi kehidupan Republik ini, maka lakon-lakon yang dipertontonkan Teater Gandrik menjadi salah satu medium yang menyuarakan kritik sosial sekaligus katarsis politik.

Sketsa dari sketsa yang disuguhkan Teater Gandrik inilah yang dikatakan sebagai “manifestasi teateral dan modern dari pola kritik varian rakyat kecil”, khususnya bagi rakyat kecil di Jawa. Manifestasi tersebut dibuktikan dengan ciri khasnya yang membawakan lakon namun beraroma “guyon parikena.” Yaitu menyindir secara halus dengan sedikit bahan canda sehingga sindiran tersebut lebih dominan melahirkan tawa. Dengan improvisasi spontanitas yang menjadi kebebasan para pelakunya dalam mengembangkan ide, baik satire ataupun humor, maka kemarahan sang penguasa akan sedikit terminilaisir karenanya.

Persis bila kita meminjam termonologi Plato, keutamaan hidup atau virtue pemimpin politik tidak lain adalah kebijaksanaan. Melalui kebijaksanaannya, kepemimpinan sorang lain akan dikelola dengan berkeadilan. Figur bijaksana tidak mungkin merasa nyaman berhias narasi kecongkaan dan kebencian. Sosok yang bijaksana selalu menjadi teladan dalam bersikap, berpikir, dan berperilaku. Tanpa virtue kebijaksanaan, teladan politik tidak akan dilahirkan. Inilah narasi-narasi yang selalu dilontarkan makna tentang, keadilan, kebijaksanaan para pemimpin kita yang menjadi sumber inspirasi dari teater gandrik.

Seperti penampilannya yang baru ini mereka berbicara tentang “Para Pensiunan 2049″ sebagai judul pementasannya. Karya Gregorius Djaduk Ferianto tampil di Yogyakarta dan Jakarta.
Seperti yang dikatakan Butet, bahwa Teater Gandrik merupakan salah satu kelompok seni yang senantiasa memadukan semangat teater tradisional dan modern dalam setiap panggung pertunjukannya. Kepiawaian dalam mengolah ide dan gagasan kreatif yang didukung kemampuan akting para pemainnya, Teater Gandrik selalu dapat menarik perhatian para penggemarnya.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan pementasan, ‘Para Pensiunan 2049” hadir dengan guyonan khas Teater Gandrik.
“Diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan sehingga mampu membangun jiwa yang penuh dengan semangat kebangsaan.” Inilah karya teater gandrik. Terus bersemangat dalam petualanganmu mengejar nilai-nilai keadilan dan kebajikan di negeri yang tercinta ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s