PERJALANAN DI KERETA MALAM

Seseorang bertanya, yaitu seorang ibu muda. Dia cantik, tapi kelihatan “judes” . Pertemuan ini di Kereta malam dalam perjalanan ke Banyuwangi pada saat itu.
Dia mulai bercerita:

“Ada sesuatu yang perlu saya ceritakan, namun sebenarnya aku malu, tapi mengapa harus saya tutupi, mungkin anda bisa memberi solusi, nggak apa
kan ? Begini, saya bingung mesti harus memulai dari mana, karena saya tidak biasa untuk bercerita masalah pribadi dan saya tidak tahu mesti mulai dari mana. Ya, saya sudah menikah hampir 3 tahun dan suami saya usianya sekarang 31 tahun. Saya sering sekali berselisih paham dengan suami saya, kami masing-masing merasa bahwa kamilah yang benar, dan selalu seperti itu. Masalahnya kayaknya sepele tapi terus berulang. Maaf saya tipe istri yg agak over protektif, memang sudah dari awal kami pacaran suami saya sudah tahu sifat saya itu dan kami punya komitmen untuk terbuka tentang apapun juga, dan tidak ada istilah privasi lagi, apa yang suami tahu istri juga tahu dan begitu pun sebaliknya. Kami enjoy menjalani kehidupan rumah tangga kami selama ini. Saya bersyukur karena suami saya tipe laki-laki yang tidak suka keluar rumah selain keluar untuk bekerja. Tapi kadang-kadang suami saya pergi, untuk bertemu teman-teman lama nya, paling sering sebulan sekali. Kadang itu yang menjadi awal pertengkaran kami. Karena saya kurang suka suami saya berkumpul dengan teman-temannya lama. Yang namanya teman lama pasti ada unsur memory yang tersembunyi dan dihadirkan kembali. Ini jelas ! Betul juga saya mulai diabaikan, kejadian bulan Maret kemarin membuat saya sangat sakit hati, hingga suami saya lupa hari ulang tahun saya, sedangkan untuk acara bertemu dengan teman-temannya sudah dari jauh-jauh hari dia persiapkan telfon sana telfon sini untuk mengadakan pertemuan, sedangkan ulang tahun istrinya sendiri dia bisa lupa. Saya merasa sakit hati. Setelah saya tanya dia, dia kasih alasan katanya lupa, stresslah. Banyak pikiran pokoknya maca-macam alasan tapi yang tdk habis pikir kok dia antusis sekali untuk acara temannya itu. Saya merasa sudah menjadi istri yang sagat baik untuk dia dan dia juga mengakui itu, apapun saya lakukan untuk keluarga nomor satu buat saya adalah suami dan anak. Oya dari perkawinan saya ini saya dikaruniai anak perempuan usia 3 tahun dan sangat lucu dan pintar. Suami saya juga agak egois, sensitif dan sangat idealis. Memang dia tidak pernah melarang saya untuk ini untuk itu, tapi saya menyadari tugas saya sebagai seorang istri dan seorang ibu, sampai saya mengorbankan diri untuk kepentingan saya sendiri. Sebelum saya menikah saya wanita pekerja dan punya penghasilan sendiri. Masih ada sedikit kebanggaan pada diri saya, bahwa saya masih mampu berdiri sendiri walau tanpa suami. Gajihku juga cukup lumayan hampir sebanding dengan suami saya.
Nah yang menjadi pertanyaan, aku harus bagaimana untuk mengambil kebijakan dan keputusan. Apakah saya harus tinggalkan suami saya. Cerai ??!”

“Ini suatu keputusan yang tidak baik ! Kamu harus ingat, anakmu juga masih perlu dan ingin pelukan kasih sayang Ayahnya. Kamu tidak boleh egois, kecuali kamu belum punya anak. Tolong dipikir yang baik dengan pikiran yang dingin.”
Ibu muda yang punya nama Hanung, diam tidak menjawab. Kereta malam terus tetap berlalu seakan tak menghiraukan ada persoalan yang sangat pelik dan dilematis. Hingga tak terasa kereta sudah sampai di Stasion yang kami tuju. Hanya ada ucapan terimakasih dan senyuman tipis yang manis membelah bibirnya yang merah mengakhiri pertemuan kami. Hemm ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s