SOSOK SLAMET HARYANTO

Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Seorang yang bernama Slamet Haryanto hanya bisa mengenyam di bangku SD saja telah membuat inovasi. Gebrakan baru, pada 2008, mulailah tercipta prototipe pembangkit listrik tenaga hampa. Alat generator tanpa BBM yang mirip solar cell (panel surya) dengan cara memanfaatkan arang batok kelapa sebagai karbon monoksida yang ditempelkan di panel. Satu panel mampu menghasilkan 1.500-2.000 watt listrik. “Saya sebut pembangkit listrik tenaga hampa karena memang tidak ada suaranya, tidak menggunakan BBM, dan tidak perlu panas matahari tapi mampu menghasilkan energi listrik,” jelasnya.
Latarbelakang Slamet hanya sebagai penjual jasa tukang servis dinamo di rumahnya. Inovasi baru ini awalnya Slamet disuruh membuat kandang ayam oleh tetangganya dan juga sekalian disuruh membuat kincir angin dengan sumber listrik.

Bupati Malang Rendra Kresna sempat datang di bengkel servis dinamonya yang juga menjadi tempat produksi PLTH.
Sebagaimana juga ditulis Radar Malang, saat ini PLTH made in Slamet telah mampu menghasilkan kapasitas 15 ribu watt dengan daya tegangan 220 volt. Kapasitas itu dicapai secara bertahap, mulai 1.000, 2.000, terus ke 6.000 watt hingga mencapai kemampuan maksimal yang sekarang. Pembangkit ala Slamet yang cara bekerjanya dengan mengandalkan arus bolak-balik dari panel, travo, aki, mesin pendorong, dan kapasitor. Sebagai penggerak awal, digunakan aki berkekuatan 6 volt yang biasa terpasang di sepeda motor. Dan PLTH itu memiliki keunggulan mampu bertahan hidup nonstop selama 24 jam. Syaratnya, listrik yang dihasilkan harus terus digunakan, entah itu untuk menyalakan kulkas, lampu, televisi, atau alat elektronik lainnya.
“Secara otomatis, kalau listrik itu digunakan, PLTH akan memproduksi listrik secara terus-menerus pula. Kalau tidak digunakan, PLTH akan mati dan harus dipancing dengan aki lebih dulu,” jelasnya.

Namun syaratnya, listrik yang dihasilkan harus terus digunakan, entah itu untuk menyalakan kulkas, lampu, televisi, atau alat elektronik lainnya.
“Secara otomatis, kalau listrik itu digunakan, PLTH akan memproduksi listrik secara terus-menerus pula. Kalau tidak digunakan, PLTH akan mati dan harus dipancing dengan aki lebih dulu,” jelasnya. Panel-panel yang terpasang berfungsi menyimpan listrik 1.500″2.000 watt per panel. Besaran daya yang dihasilkan bergantung banyaknya panel yang dipasang. Jadi, untuk menghasilkan 10 ribu watt, misalnya, tinggal disiapkan lima panel. Satu panel membutuhkan sekitar 3 kilogram karbon monoksida yang dihasilkan dari arang batok kelapa yang dibeli Slamet dari petani kelapa.

“Sebenarnya pakai batu bara juga bisa. Tapi, limbahnya berbahaya,” ujar Slamet.
Dia menjual hasil temuan itu sejak empat tahun silam. Lewat gethok tular (dari mulut ke mulut), pasar produk listriknya terus meluas. Tapi, Slamet tetap berhati-hati melayani pesanan. Selama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, industri rumahan, atau kepentingan umum seperti penerangan di daerah terpencil, Slamet melayani. “Kebanyakan pembelinya saat ini dari luar Pulau Jawa,” ungkap pria yang memperoleh keterampilan listrik dari pamannya yang juga bekerja sebagai tukang servis dinamo tersebut.
Kehati-hatian itu dia perlukan karena hasil karyanya belum dipatenkan. Slamet khawatir ada pihak-pihak yang memesan hanya untuk menyontek dan kemudian diproduksi masal tanpa seizin dirinya.

Harga yang dipatok relatif murah. Untuk PLTH berkapasitas 1.000 watt yang menghabiskan biaya pembuatan sekitar Rp 4 juta, Slamet menjualnya sekitar Rp 5 juta. Dia untung Rp 1 juta dengan masa penggarapan alat sekitar tiga hari.
Meski Slamet tak sembarangan melayani pesanan, hasil karyanya toh akhirnya terdengar sampai ke Jakarta. Menteri BUMN Dahlan Iskan telah memesan satu unit berkapasitas 10 ribu watt.
“Pak Dahlan sudah telepon saya dan bilang akan berkunjung ke sini bersama direktur Utama PLN (Nur Pamudji),” katanya. Wah, tidak bisa terbayangkan sebagai anak bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s