MASIH ADA HARI ESOK, YUNI….

Hamparan hijau dari semak perdu tanaman teh yang luas menghiasi suasanya pagi yang cerah. Seakan menjadi catatan tersendiri. Ambahrawa catatan yang kedua dan kini kutorehkan pada secarik angan lembaran ini. Tentang seorang wanita, namanya Yuni Sanusi. Kubiarkan ia cerita, kisah yang sedang mendera dalam hidupnya. Pertemuan ini tidak kami rencanakan, kebetulan ia sedang duduk sedirian di bangku kayu. Ia menjauh sendirian dari teman-teman seperjalanan.

“Aku adalah anak satu-satunya perempuan di dalam keluarga kami, Om. Juga anak terakhir dari tiga bersaudara. Sejak kecil hingga dewasa ini aku selalu dimanja kedua orang tuaku, juga termasuk kedua kakakku. Awalnya tak kusadari dan saya anggap hal yang biasa. Termyata berbenturan keputusan dengan orangtuaku……”
“Apa itu ?!” kataku memotong cerita Yuni, kelihatannya sangat menarik.
“Aku disuruh cepat nikah !”
“……dan aku saat itu masih kuliah” tambah katanya.

Inilah yang menjadi bahan pemikiraku. Di era milenial seperti sekarang ini masih ada orang tua yang sangat, kolot dan otoriter. Apa lagi si Yuni masih dalam jenjang mengejar pendidikan perguruan tinggi saat itu. Memang banyak pemikiran dari orang yang katanya, “Nggak papa kuliah tetap dilanjutkan, walau sudah nikah”
Tidak semudah itu, mencampuradukkan persoalan kedua ini. Yaitu kuliah dan rumahtangga. Ya memang ada yang bisa melakukan. Tapi perlu diingat, pasti ada satu yang dikorbankan. Yaitu menunda kehamilan ! Ini yang sangat riskan untuk jenjang ke depan, yaitu mempunyai keturunan secara kodratnya.

Memiliki keturunan tentu menjadi keinginan banyak orang, terutama keluarga. Sayangnya, kehamilan yang dinanti, kerap menjadi hal yang sulit bagi sebagian perempuan karena kesibukan.
Tentu, ada rasa frustasi, marah, kecewa, lelah, dan sedih yang terkadang muncul di dalam benak hati. Persis pada hati Yuni saat ini. Kini tinggal penyesalan dan keduanya hancur semua.

“Inilah sekarang yang terjadi, saya sudah tidak punya harapan. Suamiku sudah meninggalkanku, karena aku tidak bisa memberi keturunan. Dan kedua orang tuaku sudah meninggal karena terlalu banyak memikir kehidupanku. Dan kini aku hidup sendirian dan sesekali ikut menjaga keponakanku didalam kesendirianku. Seandainya aku dulu tidak cepat menikan dan terus melanjutkan kuliahku, mungkin tak sedemikian.” keluh Yuni yang membuatku trenyuh merasa iba. Seraya kupegang pundak Yanti, memberi semangat. “Ingat, masih ada waktu dan kesempatan untuk berbuat, kamu masih muda dan cantik, Yuni…..
pandanglah hari esok. Masih ada sinar yang ramah dan bersahabat” kataku bersama itu pula waktu sudah menunjukkan angka, aku harus cepat kembali pulang. Salam buat kamu Yuni, suatu saat kita bertemu kembali. “Ya…………..” jawab Yuni lirih dengan meninggalkan segaris senyum yang manis di bibirnya. Hem..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s