OH, FARIDA NASIBMU

Farida, pertama aku kenal di sebuah pengiapan, dimana sudah enam hari ini akun nginap. Semarang, ada goresan cerita yang tak kulupakan, karena aneh. Sore itu pas aku duduk-duduk di lobby, sekilas aku melihat wanita yang bernama Farida nyudut di pojok ruangan. Aku mencoba menghampiri karena kami sudah saling kenal dan akrap. Biasanya dia tidak seperti itu, diam, muram dan apatis. Aku jadi penasaran.

Farida sebagai Guest Relation Officer atau biasanya disebut GRO. Cara bekerjanya kurang lebih mendengarkan segala keluhan tamu. Dan yang sangat menarik dengan gaya bahasa yang lembut, senyum menawan meyakinkan kalau “ibu peri” yang satu ini penyabar, karena seringnya bertemu dengan pelanggan tamu hotel. Juga sambil menenangkan masalah, memberikan solusi, membuat mereka kadang langsung dianggap sebagai anggota keluarga baru. GRO dengan kesabarannya menjadikan mereka selalu ada di hati para tamu, dan memiliki teman atau saudara dimana-mana. Inilah yang membuat aku simpati. Tetapi untuk Farida tidak demikian, malah bertolak belakang, ingin brontak pada siapa !

Disinilah yang terjadi ada kepiluan yang sangat mendera di hati Farida. Belum lagi persoalan di dalam rumahtangganya. Aneh, ia sudah menikah. Tapi tidak mau mengakui setatusnya sebagai istri dan ibu rumahtangga. Ia kurang menyadari, bahwa hidup harus berani menghadapi tantangan, sebab ini merupakan suatu pilihan. Mengapa harus hidup ! Kalau tidak mau berani menghadapi tantangan.
“Sejak aku menikah dengan mas Ardi, aku tahu bahwa statusku sekarang menjadi seorang istri, ibu rumahtangga dan ibunya anak-anak. Namun nyatanya bukan jalan yang mudah untuk aku lakukan” katanya
“Memangnya kami menyesal Da ! Setelah menikah dengan suamimu itu ? Berarti kamu belum siap untuk nikah” kataku menyela
“Memang, aku dipaksa. Idealnya menjadi ibu rumah tangga diusia seperti aku sekarang ini merupakan pilihan yang paling tidak cocok. Mengapa, percuma aku mendapatkan gelar sarjana yang akhirnya harus ke dapur. Ijazah sarjana yang kuperoleh dengan belajar selama bertahun-tahun hanya tersimpan di lemari. Dan kalau aku bekerja disini karena terpaksa. Sebagai pelampiasan” tambah kata Farida protes.
“Heh sebentar, kamu sebetulnya marah sama siapa Farida yang cantik ?” kataku menghibur dan mencoba untuk menetralisir. Mengapa dia ‘ngamuk sak karepe dewe’.
“Mangkel sama seniorku !” jawabnya.

Masuk dunia perhotelan, atau juga kita sebut sebagai seorang hotelier, bersiap-siaplah dengan yang namanya senioritas dan perselisihan antar departement. Seperti yang kita ketahui, struktur di hotel itu bertingkat, rumit, dan kompleks. Apa lagi yang masih mempunyai status fresh graduate maka bersiaplah menghadapi senior-senior dengan beragam sifat dan sikap mereka. Ada yang baik banget, ada pula yang rasanya pengen tonjok ! Ada yang keras dalam artian memang mengajar, ada juga yang iseng ngerjain. Inilah yang menjadi problem Farida sebagai pekerja Hotel.
Di lingkup rumahtangganya sudah ruwet, di pekerjaannya juga semakin ruwet.

Farida ingin kembali ke masa lalunya dan ingin menyudahi persoalan. Yaitu ingin menjadi srorang mahasiswi, untuk mengambil S2 yang menjadi keingiannya. Maklum usia Farida masih muda. Oh, nasibmu si cantik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s