TAK ADA LAGI SUARA NINGSIH YANG CERIA

Ningsih anak juragan ayam potong di pasar Peterongan Semarang. Namanya anak juragan, ya jelas dari segi ekonomi tidak pernah kekurangan. Namun Ningsih “kok yo goblok tenan lho yo, kok ora gelem neruske sekolahe” ke jenjang yang lebih tinggi. Soal biaya lebih dari cukup. Namun ia sangat tidak menyadari di luar sana, bahwa banyak orang bermimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, juga sudah menjadi impian semua orang bisa meraih mimpi yang satu ini, yaitu ke perguruan tinggi.

Tetapi ironisnya Ningsih lebih suka menghamburkan uang tak berguna, yaitu traveling ke sana kemari yang tujuannya tidak jelas, dengan pacarnya yang…….
mana lagi. Ada Jhonny, Parno, Handoyo dan yang terakhir ini si Supri.
Ningsih sudah merasa enjoi dengan kehidupan yang serba ada ini. Dan yang terlebih ke dua orang tuanya punya pola pikir redah, yang dipikir hanya ayam dipotong berapa hari ini, atau untung berapa hari ini, jadi kurang begitu memikirkan faktor sosial dalam lingkup keluarga. Bagaimana kelak anakku, atau sedang apa anakku sekarang dan bagaimana masa depan anakku. Tidak sama sekali. Nah gaya prilaku seperti ini, apa sebagian dari model prilaku gaya milenial yang kebablasan ?

Aku jadi tertarik untuk mengikuti dan menelusuri jejak-jejak kehidupan yang sangat menarik dilihat dari kepelbagi kehidupannya. Pada hakikatnya pendidikan anak sangat dibutuhkan, bukan hanya sekedar ditempa di sekolah saja tetapi pendidikan itu bisa dengan membimbing dan mengarahkan anak kepada norma-norma agama dan adat sopan santun dalam kehidupannya. Dengan bimbingan dan pengarahan yang baik dari orang tua terhadap anak sejak usia dini, maka diharapkan setelah dewasa nanti segala tindakannya akan selalu didasari dengan nilai-nilai agama. Sekarang ini banyak sekali para orang tua yang kurang memperhatikan dan mengarahkan anaknya, justru mereka sibuk dengan kepentingannya sendiri sehingga lupa dengan kewajibannya sebagai orang tua yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak.

Keutuhan orang tua juga merupakan salah satunya untuk mendukung pendidikan seorang anak, karena itu akan membuat seorang anak merasa mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi seorang anak yang tidak memiliki orang tua yang utuh masih bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, itu semua tergantung dari masing-masing individunya.

Banyak juga anak dari keluarga yang mempunyai orang tua yang utuh, ekonominya bagus seperti kehidupan Ningsih ini, tidak pernah mendapatkan bimbingan dan arahan dari orang tuanya sehingga mereka menjadi anak yang kurang kasih sayang serta tindakan yang dilakukannya tidak bisa terkendali dan tidak terkontrol, maka dari itu peranan orang tua di dalam keluarga yang paling dominan atau menonjol adalah sebagai penanggung jawab kepada anggota keluarganya, diantaranya pendidikan karena dengan memperoleh pendidikan maka seorang anak akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk agar tidak terjerumus dalam kemungkaran.

Kini semuanya sudah terlambat bagi Ningsih, ia merenungi nasibnya. Orang tua sudah tidak bisa diandalkan lagi. Aib mewarnai kehidupan rumah tangga juragan ayam potong ini. Ningsih hamil di luar nikah. Karena harga diri yang sangat besar ternoda, tercoreng dan terhina. Ningsih harus keluar dari rumah yang megah nan sunyi. Tak ada lagi suara tawa Ningsih yang ceria….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s