KISAH NENNY DAN MERTUA

Hampir semua wanita yang menjadi kekwatiran pasca perkawinan adalah sosok seorang ibu mertua. Kekwatiran disini bisa secara verbal maupun non vebal. Sudah menjadi sebuah cerita kisah klasik, yang tidak terelakkan bahwa antara sosok seorang mertua dan mantu jarang pernah akur. Bilapun bisa akur, ini hanya sekedar pelampiasan untuk menutup-nutupi, biar tidak dilihat orang lain. Dan juga sekedar menjaga etika sosial kehidupan di tengah masyarakat.

Seperti yang terjadi pada diri wanita ini.
Ia kutemui di saat kami sama-sama dalam perjalanan pulang. Kereta jurusan Malang mengantar kami berdua dan kebetulan kami duduk bersebelahan dengan seorang wanita berparas cantik ini, sendirian lagi. Asyik………!
Nenny Ambarwati nama kepanjangannya Nenny bercerita panjang lebar tentang kehidupan rumahtangganya yang kurang harmonis. Sikap suaminya yang masih kekanak-kanakan dan yang terlebih dia “anak mama” yang paling disayangi oleh ibunya

“Tak salah dong, Nen ! Si Doddy suamimu ini anak tunggal, jadi sangat disayang mamanya.” tanyaku menggoda.
“Ya tidak musti harus begitu ?! Dia sebagai suami harus siap untuk melepas sifat kekanak-kanakannya itu dan harus siap mandiri juga bertanggung jawab sebagai suami.” sergah kata Nenny agak emosi dan sewot. Aku hanya bisa menarik nafas dalam dan sesekali lidahku berdecak sambil kupandangi wajah Nenny.

Kekwatiran rasa takut sebenarnya bukan hanya pada seorang mantu, mertuapun juga demikian karena ketidak cocokan. Sebab sama-sama wanita juga.
“Faktor ketidak cocokan yang menjadi pemicu persoalan. Kamu sebagai
menantu, Nen ! Mungkin lebih banyak belajar, bagaimana bisa disayang mertua juga disegani. Yang pertama anggaplah ia sebagai orang tuamu sendiri. Dan juga kamu ketahui, apa yang sebenarnya didambakan mertua dari menantunya ? Kamu jangan menganggap dirimu sebagai orang lain di lingkup keluarga baru ini.

Dari sinilah kamu dengan santai bisa belajar untuk menunjukkan integritasmu dari jawaban-jawaban cerdas berwibawa dan santun dihadapannya bila saat duduk berdua.”
Tanyaku lagi sedikit memberi jalan pandangan jalan keluar.
“Sementara kekwatiran terbesar mertua pada mantu adalah apakah kamu bisa merawat anak dan cucunya seperti sebaik ia merawat keluarganya dulu. Untuk itu, tunjukkan juga bahwa kamu adalah menantu yang penuh dedikasi, perhatian dan kasih sayang terhadap keluarga.” tambah kataku mengguruhi.
“Ah, teori !” jawabnya memotong. Aku terperangah mendengar jawaban dari Nenny yang sepontan itu yang seakan tidak terima memprotesku.
“Ya sudahlah…… aku mau tidur malas ngomong sama kamu ! Capek ngomong tidak ada artinya ! Katanya mau mencari solusi dan katanya, kamu bilang, bagaimana ya enaknya……” jawabku menimpali.
“Maaf, aku emosi,” jawabnya seraya menjawil lenganku merajuk. Aku diam pura-pura tidur. Baru aku terperanjat setelah kakiku diinjak. Aku tersentak, kaget. Dia kulihat mringgis hingga terlihat giginya yang putih biji timun berderet rapi, nampak manis. Aku coba untuk menetralisir suasana supaya lebih serius lagi.

“Makanya Ingat Nenny yang cantik dan lagi gundah kalau kamu terus keras kepala dan membingkai diri, yang akan terjadi adalah perselisihan demi perselisihan. Akhirnya hubunganmu dan ibu mertua jadi kurang baik. Satu hal yang paling didambakan ibu mertua adalah melihat anaknya dan mantu bahagia. Itu sudah cukup !” kataku lagi sambil kujiwit pipi Nenny bersih.
“Ingat kamu harus balik lagi ke Semarang, suruh suamimu jemput. Jangan lama-lama kamu tinggal di Malang, anakmu kasihan menunggumu.
Ah, Nenny…..Nenny…… membuatku pusing. Hingga tak terasa kereta sudah sampai dimana. Hem..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s