REFLEKSI

Seorang Jurnalis, Pewarta atau Wartawan, kalau sudah terpengaruh dan masuk pada sistem perpolitikan di dunia kepartaian/parpol, jelas pemberitaannya sangat diragukan. Hem, apa mungkin mereka kurang menyadari atau dibuat tidak sadar bahwa bidang tugasnya menggali kebenaran informasi dari publik yang harus berani jujur, komitmen, konsekuen, santun, tegas, tajam dan berani mati, demi kebenaran sebuah pemberitaan untuk kebaikan publik dalam konteks keadilan hukum dan sosial, adalah tugas pokok yang harus dipegang teguh. Juga kode etik jurnalistik sebagai dasar kuat seorang jurnalis sudah mulai tergerus oleh prilaku era zaman ?

Kalau mau ditelaah lebih dalam lagi,
untuk siapa pemberitaan berisi validitas kebenaran itu ? Tak lain, tentu untuk kepentingan dan kebaikan kita bersama dalam membangun bangsa dan negara yang bermartabat penuh kebajikan juga keadaban. Memang belakangan ini banyak masyarakat yang meragukan tugas mereka. Terutama yang ada di media elektronik, yang nota bene kepemilikan media itu seorang tokoh partai politik. Di sini tidak perlu penulis sebutkan, masyarakat secara luas sudah banyak yang tahu media elektronik mana……

Memang tidak salah, mereka Jurnalis, Pewarta atau Wartawan masuk dalam dunia media, adalah bekerja untuk kebutuhan hidup, bukan sekedar iseng. Juga sebagai mahluk sosial yang harus bertanggung jawab terhadap terutama untuk keluarga. Jadi soal indepedensi sebagai jurnalis merasa kurang ada kepedulikan dan hanya sekedar nomer dua, yang penting jabatan, gaji tinggi dan perlunya ABS (asal bapak suka)

Oleh karena itu, jangan merasa sakit hati, tersinggung bila banyak kritikan dari masyarakat yang terus bermuara dan menjadi viral di medsos. Memang masyarakat sangat butuh pemberitaan penuh keteduhan dan kenyamanan yang
bernilai positif demi kebenaran untuk kemaslahatan rakyatnya. Karena kritik merupakan sumber air bening informasi dalam mengemas wahana edukasi.

Nah, hanya sekedar untuk mengingat dan yang perlu kita banggakan pada ketaladanan para pahlawan Pers Nasional pendahulunya, antara lain, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), dikukuhkan sebagai Bapak Pers Nasional pada tahun 2006. Abdoel Rivai (1871-1937) dianugerahi gelar oleh pemerintah sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974. H. Adam Malik Batubara (1917-1984), Mantan Wakil Presiden RI yang ketiga.
Bagaimana, ada yang perlu kalian sanggah ? CMIIW saja dari saya. Hem..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s