YANG PERLU KITA GARISBAWAHI

Dampak dari kerusuhan unjuk rasa pada 21-22 Mei, juga menimpa pada kawan jurnalis kita. AJI (Aliansi Jurnalistik Indonesia) telah mencatat ada 20 jurnalis dari berbagai media yang menjadi korban. Tindakan para ujuk rasa sudah sangat anarkis, tentu tidak memandang siapa yang harus dilawan. Dan kekerasan bisa terjadi disembarang titik, dimana hatinya sudah meluap, panas dan emosi, semuanya bisa terjadi dan siapapun bisa kena imbasnya. Namun sayang, tindakan unjuk rasa yang katanya untuk menegakkan hak demokrasi, nyatanya telah terdodai oleh politik uang. Dengan kata lain mereka para perusuh itu di bayar, ada yang mendanai. Wah, kacau ! Dimana kita yang merindukan demokrasi yang berkebajikan dan beradaban, nyatanya telah dirusak oleh saudara kita sendiri. Mau jadi apa negara yang selalu kita rawat dan kita cintai ini, bila hak demokrasi kita telah rusak !

Kini yang menjadi keprihatinan kita, kekerasan yang menimpa dan dialami jurnalis kita yang berupa pemukulan, penamparan, intimidasi, persekusi, ancaman, perampasan alat kerja jurnalistik, penghalangan liputan, penghapusan video dan foto hasil liputan, pelemparan batu, hingga pembakaran motor milik jurnalis. Dan mayoritas kasus kekerasan itu terjadi saat para jurnalis meliput aksi unjuk rasa di sekitar Gedung Bawaslu, di kawasan Thamrin. Beberapa kasus di antaranya, aparat kepolisian melarang jurnalis merekam aksi penangkapan orang-orang yang diduga sebagai provokator massa.

Para jurnalis tetap mengalami kekerasan meskipun mereka sudah menunjukkan identitasnya, seperti kartu pers kepada aparat. Tapi sayang ada sebagian aparat yang menunjukkan sikap tak menghargai kerja jurnalis yang pada dasarnya telah dijamin dan dilindungi oleh UU Pers.
Dan sampai saat ini AJI Jakarta masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban.
Tak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban, dan belum melapor.

Kasus kali ini merupakan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terburuk sejak reformasi.
Atas tindakan itu, AJI Jakarta dan LBH Pers mengecam keras aksi kekerasan dan upaya penghalangan kerja jurnalis yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun massa aksi.

Kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis saat meliput peristiwa kerusuhan bisa dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik. Perbuatan itu termasuk pelanggaran pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.
“Kami mendesak aparat keamanan dan masyarakat untuk menghormati dan mendukung iklim kemerdekaan pers, tanpa ada intimidasi serta menghalangi kerja jurnalis di lapangan,” jelas Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri, dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Jumat (25/5/2019).

“Kami juga mengimbau kepada para pimpinan media massa untuk bertanggung jawab menjaga dan mengutamakan keselamatan jurnalisnya” jelasnya lagi.
Selain itu, AJI juga mengimbau para jurnalis yang meliput aksi massa untuk mengutamakan keselamatan dengan menjaga jarak saat terjadi kerusuhan.

Yah, beginilah tugas seorang jurnalis. Saat melakukan tugas liputan di tempat yang sedang terjadi kerusuhan harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga, termasuk kematian. Nyatanya, bukan hanya tentara yang rela mati bagi negara. Wartawan juga harus rela mati demi berita. Bukan seperti di kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai jurnalis akan selalu dituntut siap dan siaga. Kapanpun, dimanapun, apapun yang kamu lakukan, demi mendapat berita eksklusif dari tempat kejadian langsung.
Inilah pahlawan yang rentan tanda jasa. Hem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s