DERITAMU NANA……

“Terusterang malam ini aku katakan dengan jujur sama Om, bahwa aku sudah pisah rumah dengan suamiku. Sudah dua bulan ini. Memang berat sekali rasanya beban penderitaan yang harus aku jalani. Perpisahan sebetulnya bukan sesuatu yang aku harapkan. Namun keadaanlah yang mendorongku untuk berpisah. Ya, memangnya tidak mudah bagiku untuk mengambil suatu keputusan untuk berpisah. Berat sekali ujian dan deraan yang aku terima sebelum akhirnya aku memutuskan berpisah dari suamiku.” keluh Nana dengan sesekali mengusap pipinya yang basah dengan tisu. Entah berapa tisu yang telah terbuang. Kebetulan malam hari ini aku bisa ketemu lagi dengan wanita yang sedang menghadapi pergumulan rumahtangganya yang sangat komplek ini. Untuk keduakalinya bertemu dengan Nana, wanita yang bekerja sebagai waiters di sebuah cafe yang punya nama di kota Malang. Ia melayani tamu yang makan dan minum, dan juga harus mampu memberikan pelayanan bagi tamu yang datang. Memang suatu kreteria, penampilan diri seseorang waiter/s akan menentukan apakah pelayanan yang diberikan kepada tamu merupakan pelayanan yang berkualitas dan beretiket atau tidak. Penampilan diri dituntut untuk memberikan pelayanan secara langsung kepada tamu senantiasa dengan penampilan yang cantik, rapi dan menarik. Memang Nana pribadi yang cantik dan sangat menarik.

“Bayangkan Om, secara psikologis tiap hari berapa tekanan yang harus aku terima yang selalu dilakukan oleh Mas Andik suamiku, membuat aku harus menderita lahir dan batin. Belum tamparan tangan menghujam di pipiku, ini dilakukan hampir tiap hari, tetap aku tahan demi anakku satu-satunya dan aku mengingat di kota ini aku jauh dengan orang tuaku, membuat aku benar-benar harus menguatkan hati untuk tetap berpikir waras.” Dengan desah suaranya yang lirih dan isak tangisnya yang sesekali tertahan membuatku sangat iba. Seraya kurengkuh tangannya yang dingin penuh kasih sayang mengingat dia seperti anakku sendiri.

“Ya, semua ini tidak aku sangka aku harus menerima nasib seburuk ini. Dulu waktu pertama kali aku berkenalan dengan Mas Andik, orangnya sangat baik dan sayang sekali denganku. Bahkan aku sampai rela tidak meneruskan kuliahku dan aku harus nikah dengannya, hingga aku dibawa ke kota ini hidup bersamanya Di kota Malang Perum Sawo Jajar Blok D aku tinggal, juga berkumpul bersama kedua orang tua dan adik-adik Mas Andik hidup dalam keluarga besar.” tambah cerita Nana Dari cerita ini aku sudah tidak habis pikir, cepat untuk mengambil kesimpulan, bahwa wanita yang malang jauh dari orang tuanya ini harus mendapat apresiasi yang lebih dalam.

Sementara ini Nana tinggal di mes, caffe ini menyediakan fasilitas bagi karyawan putri dari luar kota. Sudah dua bulan ini Nana bekerja, inipun terpaksa dan selama dua bulan ini Andik suaminya tidak tahu kalau Nana bekerja di tempat ini, atau memang suaminya tidak peduli lagi dan tidak mencarinya. Malam semakin larut, aku tinggalkan caffe ini dan akupun belum bisa mencarikan jalan keluar untuk wanita yang sedang malang ini. Nah, mungkin anda bisa memcarikan jalan keluar keluhan Nana yang terus mendera ini ? (Bersambung)

Satu tanggapan untuk “DERITAMU NANA……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s