“MENGUATKAN MATA RANTAI TERLEMAH”

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh (21/6) menunjukkan tiga karya buku sekaligus. Hampir semua karya buku yang ditulis selalu tak lepas dari kisah perjalanan hidupnya. Suatu biografis yang sangat menarik dan enak dibaca ini membuat para pembaca terbuai, karena sifat kesederhanaannya. Seperti buku yang berjudul “Menguatkan Mata Rantai Terlemah” ini berisi tentang jejak panjang arek kampung Gununganyar Surabaya ini, sejak masa bocah hingga mencapai puncak kariernya sebagai pembantu presiden, bahkan juga berisi kiprahnya setelah tidak lagi menjadi pejabat negara.

Dengan membaca buku ini kita mendapat gambaran bahwa sejak bocah Moh. Nuh amat beruntung, karena lahir di tengah keluarga dan lingkungan desa yang kondusif. Karakter Abah dan Emak sebagai pekerja keras dan teguh memegang prinsip hidup, jelas memengaruhi watak Nuh kelak di saat dewasa.

Abah menekankan pentingnya menjadi muslim yang taat, dengan mewasiatkan agar seluruh keturunannya jangan sampai meninggalkan salat malam dan gemar membaca salawat. Emak mengajari sikap sosial yang mulia, “dadi uwong iku kudu seneng tetulung nang uwong liya. Dadiya ahli tetulung (Jadi manusia hendaknya suka menolong orang lain. Jadilah ahli menolong.” (hal 188).

Tampaknya pesan Emak ini begitu membekas dan benar-benar dijalankan oleh Nuh, sebagai putra ke tiga dari 10 bersaudara itu. Bahkan kelak sikap itu cukup mewarnai kebijakan-kebijakan yang dijalankan saat menjadi pimpinan, baik saat masih menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), sebagai Rektor ITS, hingga sebagai Menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 maupun jilid 2.

Dari sejumlah kebijakan yang diambil, terlihat adanya benang merah yang mengarah kepada upaya “menolong sesama”. Beberapa kebijakan afirmatif Nuh menunjukkan keberpihakan dirinya kepada mereka yang miskin dan yang terkucil. Terkucil dari akses ekonomi maupun dari kemajuan teknologi.

Di mata Nuh, masyarakat itu bagaikan rangkaian mata rantai yang saling bergandengan satu dengan lainnya. Sebagai satu rangkaian terpadu, maka kekuatan sebuah rantai justru terletak pada mata rantai yang terlemah. Bila rantai difungsikan untuk mengangkat beban berat maka yang putus duluan pastilah bagian yang terlemah itu. Maka dari itu, untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia dan untuk memperkuat ketahanan nasional, salah satu cara yang harus dilakukan adalah memperkuat mata rantai terlemah. Policy yang selama ini dilakukan Menteri Nuh rupanya berada dalam konteks seperti itu. Hem..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s