WANITA DAN FOTOGRAFI

Profesi sebagai seorang fotografi memang suatu pilihan, bagi orang yang mencintai dan menggemari bidang ini. Namun yang terlebih bekerja dalam bidang ini bukan hanya sekedar hoby saja, tapi harus juga sebagai profesi yang sesungguhnya. Mengingat pekerjaan ini tidak mudah, harus butuh kemaunan dan biaya besar. Apa lagi sebagai seorang yang disebut fotografer profesional dan handal tentu harus memiliki peralatan yang baik. Ada berbagai macam kamera, dari yang murah hingga mahal. Berdasarkan pengalaman sendiri, harga suatu kamera tidak akan jauh dari kualitas. Semakin mahal suatu kamera maka akan semakin tinggi kualitas yang dapat di hasilkan.

Tugas penting seorang fotografer, mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang sesuai dengan berita yang akan ditulis oleh wartawan tulis, tujuannya untuk melengkapi tulisan berita masuk ke ranah publish. Ini bentuk dari mitra kerja yang sesuai antara fotografer dan wartawan tulis/reporter.
Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalisik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik.
Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan/to inform, meyakinkan /to persuade dan menghibur/to entertain.

Nah, aku akan mencoba untuk bertanya pada seorang fotografer wanita yang sedang melepaskan kelelahannya, duduk di serambi samping lobi gedung pertunjukan. Mungkin dia habis melesaikan pekerjaannya. Wanita itu mandangku dan mempersilahkan aku duduk. Sekilas kutatap wajahnya, dia membalas dengan senyumnya yang manis, seraya ia mempersilahkan aku duduk. Dari pertemuan inilah akhirnya aku tahu, wanita ini namanya Nurul dan bekerja sebagai seorang fotografi di sebuah surat kabar/media cetak.

“Lalu sudah berapa lama kamu menekuni karya kerja fotografi ini, Rul ?” tanyaku penasaran pada Nurul.
“Ya udah cukup lumayan lama lah !” jawabnya manja kekanak-kanakan.
“Hem, oh ya Rul. Memang di tengah maskulinitas fotografi, perempuan yang bekerja metransformasi objek menjadi subjek fotografi, itu tidak mudah. Sebagai contoh kamu bisa melihat sebagai fotografer perempuan yang berani berterusterang membuat stigma hanya menjadi objek kamera. Nah mungkin gerak postif tersebut yang menjadi langkah awal bagaimana perempuan bisa menjadi aktor intelektual penting dalam dunia fotografi seperti kamu ini.”
“Ya begitulah Mas ! Inilah kehidupan seorang fotografer wanita seperti saya ini, ada kelebihan yang kekurangannya.”
“Fotografer wanita tetap merambah dan berkembang untuk memajukan eksistensi salah satu bidang jurnalistik, yaitu fotografi. Karena Salah satu bentuk manifestasi dari kesetaraan gender ialah bebasnya perempuan untuk memilih prefensi hidup.” kataku mengakhiri, sebab aku harus melanjutkan tugas lain. Hanya ucapan kalimat pendek yang aku sampaikan untuk mengakhiri perjumpaan ini pada fotografer wanita yang cantik si Nurul. Hem..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s