PASTORALIA

Pendidikan pastoral bermula dari keyakinan bahwa pelayanan pastoral adalah pelayanan gereja yang dibutuhkan di tengah krisis yang bersifat multi-dimensional, baik yang bersifat sosial, seperti konflik antar-kelompok, maupun individual, seperti tekanan jiwa atau stress mental yang dialami banyak orang. Situasi ini mendorong gereja untuk lebih meningkatkan pelayanan pastoralnya dalam upaya menolong orang agar mendapatkan kesembuhan, topangan, bimbingan, dan pendamaian. Sampai saat ini, pelayanan pastoral yang dilakukan gereja-gereja masih belum optimal karena jumlah tenaga yang terbatas dan persiapan secara akademis-teoretis dengan pemahaman refleksi teologis yang tidak berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak tenaga pelayanan pastoral yang hanya menguasai teori namun tidak terampil dalam melayani, dan banyak rumusan teologi pastoral yang kurang relevan dengan kebutuhan orang-orang yang dilayani. Apa lagi berkenaan dengan suhu politik keyakinan iman kita yang masih belum pas.

Untuk mengatasi kelemahan pendidikan pastoral yang sangat bersifat akademis-teoretis ini, seorang pendeta dan dua orang dokter di Amerika Serikat memulai suatu model pendidikan pastoral baru, yang kemudian disebut dengan Clinical Pastoral Education (disingkat CPE). Pendidikan ini bersifat klinis, artinya langsung melibatkan diri dalam kehidupan orang-orang yang dilayani, jadi dalam pendekatan ini seseorang belajar pastoral pertama-tama dari living human documents (manusia), dan bukan dari buku atau kuliah-kuliah tertentu. Beberapa tokoh yang pada akhirnya disebut sebagai perintis CPE, antara lain: William S. Keller, Anton Boisen, dan Richard C. Cabot. Sebenarnya ketiga tokoh tersebut merintis CPE sebagai reaksi atas pendidikan teologi tradisional di Amerika Serikat pada waktu itu yang masih bersifat intelektualistis. Mereka menyadari bahwa mahasiswa-mahasiswa teologi sebenarnya perlu belajar pastoral secara klinis, dan mahasiswa-mahasiswa teologi ini perlu mempelajari pelayanan pastoral dari living human documents dan tidak hanya dari buku atau kuliah-kuliah saja.

Tujuan umum CPE sama dengan tujuan pendidikan pastoral pada umumnya, yaitu menyiapkan orang untuk dapat melakukan pelayanan pastoral. CPE ini juga memiliki beberapa tujuan khusus, yaitu:

Menolong orang menyadari identitas pastoralnya
Menolong orang mengembangkan keterampilan pastoralnya
Menolong orang memahami dirinya sendiri
Menolong orang meningkatkan pertumbuhan pribadinya
Menolong orang meningkatkan hubungannya dengan orang lain
Menolong orang meningkatkan hubungannya dengan Tuhan
Menolong orang bekerja bersama dengan orang-orang dari kelompok profesi yang berbeda
Menolong orang mendapatkan pengetahuan tentang pelayanan pastoral, khususnya pendampingan pastoral
Menolong orang untuk melakukan refleksi teologi pastoral

Untuk menggapai tujuan yang mulia ini memang dibutuhkan prilaku batin dan niat hati yang seutuhnya. Kita sebagai manusia kadang masih bertanya, sejauh mana kita bisa merealisasikannya ? Inilah sebagai dapur pikir kita yang penuh kepelbagian harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s